Hidup adalah sebuah perjalanan. Titik startnya adalah ketika sel sperma dan ovum bertemu dan terjadi pembuahan. Saat itu manusia memulai hidupnya di alam rahim. Selama kurang lebih 9 bln 10 hari, manusia hidup di alam ini, berproses utk persiapan menuju ke alam dunia.
Pada saat lahir, hidupnya di alam rahim telah selesai, dan mulailah hidupnya di alam dunia. Di sini ia dianugrahi akal & nafsu, dibekali dgn sebuah peta yg disebut Kitab Suci. Jika ia mengikuti peta itu maka ia akan menempuh jalan lurus, tp jika ia meninggalkannya maka ia akan tersesat.
Setelah melewati alam dunia, ia memasuki babak baru, yaitu alam barzakh. Dlm bahasa manusia ia disebut mati, tp sebenarnya ia tetap hidup tp di alam yg berbeda.
Kemudian sampailah ia di alam yg terakhir, yaitu alam akhirat. Di sini ia kembali kepada Tuhannya yg memberinya hidup pertama kali. Ia mempertanggungjawabkan apa yg telah diperbuatnya selama di alam dunia. Bagi yg mengikuti Kitab Suci maka ia akan kembali ke haribaan Tuhannya. Inilah terminal akhir dari perjalanan yg disebut kehidupan itu: kembali ke haribaan-Nya...
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..."
Sesungguhnya kita adalah milik-Nya, dan sungguh hanya kepada-Nya kita kembali...
Wednesday, November 25, 2009
Saturday, October 10, 2009
Hargai Apa Yang Kita Miliki
Pernahkah Anda mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi
buta dan tuli. Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar.
Nah, dalam kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi
seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti
dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal. Namun
siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki
semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi
dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu
menjalani kehidupan sebagaimana manusia normal lainnya,
meski itu teramat sulit dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah diucapkan Helen
Kehler:
"It would be a blessing if each person could be blind and
deaf for a few days during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to experience the joy
of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah bila setiap
orang yang sudah menginjak dewasa itu mengalami buta dan
tuli beberapa hari saja. Dengan demikian, setiap orang akan
lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar
suara!
Sekarang, coba Anda bayangkan sejenak....
......Anda menjadi seorang yang buta dan tuli
selama dua atau tiga hari saja!
Tutup mata dan telinga selama rentang waktu tersebut.
Jangan biarkan diri Anda melihat atau mendengar apapun.
Selama beberapa hari itu Anda tidak bisa melihat
indahnya dunia, Anda tidak bisa melihat terangnya
matahari, birunya langit, dan bahkan Anda tidak bisa
menikmati musik/radio dan acara tv kesayangan!
Bagaimana? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?
Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja, bahwa
betapa sering kita terlupa untuk bersyukur atas apa yang
kita miliki. Kesempurnaan yang ada dalam diri kita.
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah keluhan
demi keluhan. Hingga tidak pernah menghargai apa yang
sudah kita miliki. Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki
merupakan kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati oleh
orang lain.
Ya! Kemewahan untuk orang lain!
Coba Anda renungkan, bagaimana orang yang tidak
memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah kemewahan yang
luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia diijinkan
bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin akan mampu
melakukan banyak hal, termasuk membuat sebuah tulisan yang
menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mampu
menghargai apa yang kita miliki, hal-hal yang sudah ada
dalam diri kita, tentunya kita akan bisa memandang hidup
dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif dan
menjadi seorang manusia yang lebih baik. :-)
Sumber: AsianBrainNewsletter
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan dalam kondisi
buta dan tuli. Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar.
Nah, dalam kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan lahir dalam kondisi
seperti itu. Seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti
dia akan memilih untuk lahir dalam keadaan normal. Namun
siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki
semangat hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi
dan semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya mampu
menjalani kehidupan sebagaimana manusia normal lainnya,
meski itu teramat sulit dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah diucapkan Helen
Kehler:
"It would be a blessing if each person could be blind and
deaf for a few days during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to experience the joy
of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah bila setiap
orang yang sudah menginjak dewasa itu mengalami buta dan
tuli beberapa hari saja. Dengan demikian, setiap orang akan
lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar
suara!
Sekarang, coba Anda bayangkan sejenak....
......Anda menjadi seorang yang buta dan tuli
selama dua atau tiga hari saja!
Tutup mata dan telinga selama rentang waktu tersebut.
Jangan biarkan diri Anda melihat atau mendengar apapun.
Selama beberapa hari itu Anda tidak bisa melihat
indahnya dunia, Anda tidak bisa melihat terangnya
matahari, birunya langit, dan bahkan Anda tidak bisa
menikmati musik/radio dan acara tv kesayangan!
Bagaimana? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?
Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja, bahwa
betapa sering kita terlupa untuk bersyukur atas apa yang
kita miliki. Kesempurnaan yang ada dalam diri kita.
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah keluhan
demi keluhan. Hingga tidak pernah menghargai apa yang
sudah kita miliki. Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki
merupakan kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati oleh
orang lain.
Ya! Kemewahan untuk orang lain!
Coba Anda renungkan, bagaimana orang yang tidak
memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah kemewahan yang
luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia diijinkan
bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin akan mampu
melakukan banyak hal, termasuk membuat sebuah tulisan yang
menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita mampu
menghargai apa yang kita miliki, hal-hal yang sudah ada
dalam diri kita, tentunya kita akan bisa memandang hidup
dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif dan
menjadi seorang manusia yang lebih baik. :-)
Sumber: AsianBrainNewsletter
Saturday, March 21, 2009
Balada Jamkesmas
RS tempat saya bekerja (yaitu RS Islam Karawang) menyediakan 18 bed untuk pasien Jamkesmas dewasa, 2 bed untuk anak, dan 2 bed lagi untuk pasien kebidanan. Dengan total 22 bed, RSIK menempati urutan teratas untuk RS swasta di Karawang dalam hal penerimaan pasien Jamkesmas. Sampai-sampai ada anggapan bahwa RSIK adalah RS Jamkesmas. Saya tidak punya data untuk daerah di luar Karawang, tapi menurut saya RS swasta yg menyediakan >10 bed untuk pasien Jamkesmas jumlahnya tidak banyak.
Kapasitas 22 bed itu setiap hari hampir selalu penuh, terutama yang 18 bed untuk pasien dewasa. Begitu ada yang pulang langsung terisi lagi oleh pasien baru, bahkan ada yang pakai booking tempat segala agar tidak keduluan pasien lain.
Kalau saya perhatikan, sesungguhnya tidak semua pasien Jamkesmas itu benar-benar miskin. Banyak yang sebenarnya mampu tapi hanya pura-pura miskin agar bisa mendapatkan perawatan gratis dengan fasilitas Jamkesmas. Jadi jangan heran kalau ada pasien Jamkesmas tapi gelang dan cincin emas bertebaran di tangan, atau asik SMSan ria dengan HP yang lebih mahal dari punya dokternya. Ada calo-calo Jamkesmas yg akan membuatkan kartu Jamkesmas dan persyaratan lainnya untuk pasien kelompok ini, sekalian ikut mengantarkan ke RS, tentu saja dengan bayaran sejumlah tertentu. Setiap hari para calo ini berkeliaran mencari calon "klien".
Banyak kisah lucu tapi ironis berkaitan dengan pasien pura-pura miskin ini. Pernah ada kejadian seorang bapak diantar anak-anaknya ingin dirawat sebagai pasien Jamkesmas di RSIK. Persyaratannya sudah lengkap semua, tapi berhubung waktu itu ruangan penuh, pasien lalu dirujuk ke RSUD. Ternyata di RSUD pun ruangan penuh, akhirnya si Bapak ini balik lagi ke RSIK dan minta dirawat di ruangan kelas 1!
Yang kasihan adalah ada pasien yang benar-benar miskin tapi tidak punya kartu Jamkesmas. Ada juga pasien yang benar-benar miskin, punya kartu Jamkesmas, tapi tidak bisa dirawat karena ruangan terisi penuh oleh pasien pura-pura miskin tadi.
Entah sampai kapan ironi seperti itu akan terus terjadi...
Kapasitas 22 bed itu setiap hari hampir selalu penuh, terutama yang 18 bed untuk pasien dewasa. Begitu ada yang pulang langsung terisi lagi oleh pasien baru, bahkan ada yang pakai booking tempat segala agar tidak keduluan pasien lain.
Kalau saya perhatikan, sesungguhnya tidak semua pasien Jamkesmas itu benar-benar miskin. Banyak yang sebenarnya mampu tapi hanya pura-pura miskin agar bisa mendapatkan perawatan gratis dengan fasilitas Jamkesmas. Jadi jangan heran kalau ada pasien Jamkesmas tapi gelang dan cincin emas bertebaran di tangan, atau asik SMSan ria dengan HP yang lebih mahal dari punya dokternya. Ada calo-calo Jamkesmas yg akan membuatkan kartu Jamkesmas dan persyaratan lainnya untuk pasien kelompok ini, sekalian ikut mengantarkan ke RS, tentu saja dengan bayaran sejumlah tertentu. Setiap hari para calo ini berkeliaran mencari calon "klien".
Banyak kisah lucu tapi ironis berkaitan dengan pasien pura-pura miskin ini. Pernah ada kejadian seorang bapak diantar anak-anaknya ingin dirawat sebagai pasien Jamkesmas di RSIK. Persyaratannya sudah lengkap semua, tapi berhubung waktu itu ruangan penuh, pasien lalu dirujuk ke RSUD. Ternyata di RSUD pun ruangan penuh, akhirnya si Bapak ini balik lagi ke RSIK dan minta dirawat di ruangan kelas 1!
Yang kasihan adalah ada pasien yang benar-benar miskin tapi tidak punya kartu Jamkesmas. Ada juga pasien yang benar-benar miskin, punya kartu Jamkesmas, tapi tidak bisa dirawat karena ruangan terisi penuh oleh pasien pura-pura miskin tadi.
Entah sampai kapan ironi seperti itu akan terus terjadi...
Sunday, December 7, 2008
Socrates dan Gosip
Suatu hari Socrates bertemu dengan seorang kenalan yang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa dan berkata, ”Socrates, tahukah kamu apa yang baru saya dengar tentang salah seorang muridmu?”
“Tunggu sebentar.” jawab Socrates. “Sebelum kamu memberitahu saya, kamu harus melewati 3 ujian kecil.
“Ujian pertama adalah Ujian Kebenaran. Apakah kamu yakin apa yang akan kamu katakan adalah hal yang benar?”
“Oh tidak” jawab pria tersebut. “Sebenarnya saya baru mendengarnya.”
“Baiklah” kata Socrates. “Jadi kamu tidak tahu apakah hal tersebut benar. Sekarang kita masuk ke ujian kedua, Ujian Kebaikan. Apakah hal yang akan kamu katakan tentang murid saya adalah sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya…”
“Jadi” Socrates menyela, “Kamu ingin memberitahu saya sesuatu yang buruk tentang murid saya meskipun kamu tidak yakin bahwa hal tersebut benar?”
Pria tersebut mengangkat bahu dengan sedikit malu.
Socrates melanjutkan, “Oke, tidak apa, masih ada ujian ketiga, yaitu Ujian Kegunaan. Apakah hal yang akan kamu katakan akan berguna bagi saya?”
“Sebenarnya tidak juga…”
“Baiklah” kata Socrates, “Bila apa yang ingin kamu katakan pada saya adalah sesuatu hal yang tidak benar, tidak baik dan juga tidak berguna, lalu untuk apa kamu memberitahukannya kepada saya?”
Pria tersebut hanya bisa tertunduk malu.
“Tunggu sebentar.” jawab Socrates. “Sebelum kamu memberitahu saya, kamu harus melewati 3 ujian kecil.
“Ujian pertama adalah Ujian Kebenaran. Apakah kamu yakin apa yang akan kamu katakan adalah hal yang benar?”
“Oh tidak” jawab pria tersebut. “Sebenarnya saya baru mendengarnya.”
“Baiklah” kata Socrates. “Jadi kamu tidak tahu apakah hal tersebut benar. Sekarang kita masuk ke ujian kedua, Ujian Kebaikan. Apakah hal yang akan kamu katakan tentang murid saya adalah sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya…”
“Jadi” Socrates menyela, “Kamu ingin memberitahu saya sesuatu yang buruk tentang murid saya meskipun kamu tidak yakin bahwa hal tersebut benar?”
Pria tersebut mengangkat bahu dengan sedikit malu.
Socrates melanjutkan, “Oke, tidak apa, masih ada ujian ketiga, yaitu Ujian Kegunaan. Apakah hal yang akan kamu katakan akan berguna bagi saya?”
“Sebenarnya tidak juga…”
“Baiklah” kata Socrates, “Bila apa yang ingin kamu katakan pada saya adalah sesuatu hal yang tidak benar, tidak baik dan juga tidak berguna, lalu untuk apa kamu memberitahukannya kepada saya?”
Pria tersebut hanya bisa tertunduk malu.
Monday, July 30, 2007
Memberi Makna Pada Hidup
Apa yang akan Anda lakukan jika dokter memberitahukan bahwa Anda menderita penyakit AIDS, penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya? Itu berarti bahwa Anda tinggal menunggu waktu untuk meninggalkan dunia ini. Apakah Anda akan merasa syok dan mengeluh mengapa nasib tidak berpihak kepada Anda?
John begitu terpukul ketika ia mengetahui bahwa ia menderita AIDS. Ia seakan tidak percaya bahwa penyakit itu akan menyerang dirinya, dan tak tahu harus bagaimana menjalani hari-hari sisa hidupnya. Lalu timbul penyesalan atas gaya hidupnya selama ini yang sering melakukan hubungan sex bebas dengan banyak perempuan yang dikencaninya. Tapi penyesalan tinggallah penyesalan, karena semuanya sudah terlambat.
Beberapa waktu ia hanya mengurung diri di kamar, menangisi nasibnya. Cita-citanya untuk menjadi pebasket profesional terancam kandas di tengah jalan. Ia hanya bisa menghitung hari, dan merasakan wajah kematian tersenyum sinis padanya.
Ia hampir putus asa menatap hari-harinya, sampai sebuah pikiran tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Oke, waktunya mungkin hanya tersisa sebentar lagi, tapi ia akan memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Ia bertekad untuk memperbaiki diri, untuk memberi makna pada hidupnya yang tinggal sebentar.
Lalu mulailah ia menjadi orang yang penuh perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya, selalu siap membantu kapanpun diperlukan. Ia berusaha untuk tidak menyakiti siapapun, karena ia tahu mungkin saja ia tidak akan sempat untuk meminta maaf. Ia menyayangi orang-orang di sekitarnya dengan tulus dan orang-orang pun menyayanginya dengan tulus juga.
Sampai suatu saat ketika ia merasa waktunya sudah semakin dekat, ia merenungi kembali perjalanan hidupnya. Banyak hal yang belum sempat ia lakukan, akan tetapi setidaknya di hari-hari terakhir hidupnya ia telah melakukan sesuatu yang bermakna, dan mudah-mudahan itu akan dicatat sebagi amal kebaikannya.
Ketika John akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, banyak orang yang menangisi kepergiannya. Seseorang yang luar biasa telah pergi dengan meninggalkan kesan mendalam di hati semua orang.
Kisah John adalah kisah seseorang yang berusaha memberi makna pada hidupnya, karena ia tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. John bisa disebut beruntung karena ia masih sempat memperbaiki dirinya sebelum ia meninggalkan dunia ini.
Teman, kita semua pada akhirnya akan mati, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya. Mungkin sebentar lagi, mungkin besok, atau minggu depan, bulan depan. Kalau kita tidak memberi makna hidup kita dari sekarang, mungkin kita tidak akan punya waktu lagi untuk melakukannya. Tentu Anda tidak ingin menderita AIDS dulu seperti John untuk memulainya kan?
John begitu terpukul ketika ia mengetahui bahwa ia menderita AIDS. Ia seakan tidak percaya bahwa penyakit itu akan menyerang dirinya, dan tak tahu harus bagaimana menjalani hari-hari sisa hidupnya. Lalu timbul penyesalan atas gaya hidupnya selama ini yang sering melakukan hubungan sex bebas dengan banyak perempuan yang dikencaninya. Tapi penyesalan tinggallah penyesalan, karena semuanya sudah terlambat.
Beberapa waktu ia hanya mengurung diri di kamar, menangisi nasibnya. Cita-citanya untuk menjadi pebasket profesional terancam kandas di tengah jalan. Ia hanya bisa menghitung hari, dan merasakan wajah kematian tersenyum sinis padanya.
Ia hampir putus asa menatap hari-harinya, sampai sebuah pikiran tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Oke, waktunya mungkin hanya tersisa sebentar lagi, tapi ia akan memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Ia bertekad untuk memperbaiki diri, untuk memberi makna pada hidupnya yang tinggal sebentar.
Lalu mulailah ia menjadi orang yang penuh perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya, selalu siap membantu kapanpun diperlukan. Ia berusaha untuk tidak menyakiti siapapun, karena ia tahu mungkin saja ia tidak akan sempat untuk meminta maaf. Ia menyayangi orang-orang di sekitarnya dengan tulus dan orang-orang pun menyayanginya dengan tulus juga.
Sampai suatu saat ketika ia merasa waktunya sudah semakin dekat, ia merenungi kembali perjalanan hidupnya. Banyak hal yang belum sempat ia lakukan, akan tetapi setidaknya di hari-hari terakhir hidupnya ia telah melakukan sesuatu yang bermakna, dan mudah-mudahan itu akan dicatat sebagi amal kebaikannya.
Ketika John akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, banyak orang yang menangisi kepergiannya. Seseorang yang luar biasa telah pergi dengan meninggalkan kesan mendalam di hati semua orang.
Kisah John adalah kisah seseorang yang berusaha memberi makna pada hidupnya, karena ia tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. John bisa disebut beruntung karena ia masih sempat memperbaiki dirinya sebelum ia meninggalkan dunia ini.
Teman, kita semua pada akhirnya akan mati, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya. Mungkin sebentar lagi, mungkin besok, atau minggu depan, bulan depan. Kalau kita tidak memberi makna hidup kita dari sekarang, mungkin kita tidak akan punya waktu lagi untuk melakukannya. Tentu Anda tidak ingin menderita AIDS dulu seperti John untuk memulainya kan?
Monday, July 9, 2007
Bijaksana
Seorang teman bertanya pada saya apakah arti kebijaksanaan itu, dan apa batasan atau karakteristik orang yang bijaksana. Saya sejenak terhenyak karena tak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Sejujurnya saya tidak tahu harus ngomong apa. Ini adalah pertanyaan filosofis, sejenis pertanyaan seperti yang diajukan secara diam-diam kepada Sophie dalam novel Jostein Gaarder, "Dunia Sophie". Kayaknya saya perlu mengendapkannya lebih dulu lalu kemudian mencoba menyusun jawaban yang 'enak'. Karena itu saya tidak langsung menjawabnya, saya pulang sambil terus memikirkan pertanyaan itu.
Masing-masing orang bisa mempunyai pendapat yang berbeda tentang bijaksana. Bisa saja ada orang yang mengatakan bahwa saya bijaksana, akan tetapi pada saat yang bersamaan ada orang lain lagi mengatakan bahwa saya tidak bijaksana. Wah, kalo gitu sebenarnya bijaksana itu relatif dong. Pada tataran pemikiran manusia, iya, memang relatif, sama seperti kebaikan, kejahatan, keadilan, demokrasi dll.
Menurut saya bijaksana adalah kemampuan untuk memilih yang paling baik dari beberapa pilihan yang ada. Hidup adalah pilihan. Dari waktu ke waktu, menit ke menit, detik ke detik, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Bahkan pada saat menulis ini pun saya dihadapkan pada pilihan: terus menulis sekarang ATAU berhenti dulu kemudian melanjutkan di lain waktu. Setiap saat adalah pilihan.
Kadang kita harus membuat keputusan yang cukup penting karena keputusan kita itu akan mempengaruhi hidup kita selanjutnya, misalnya ketika lulus SMU kita mau kuliah di jurusan apa; lulus kuliah mau kerja dimana; saat menikah akan menikah dengan siapa; setelah menikah akan tinggal dimana, dll dst. Sering kita memerlukan waktu cukup panjang untuk menentukan pilihan seprti ini. Ada juga pilihan-pilihan yang lebih sederhana, misalnya hari ini mau makan nasi goreng atau pecel lele; minumnya es teh atau es jeruk; pakai baju biru celana kotak-kotak atau baju kotak-kotak celana biru, dll dst.
Ada banyak variabel yang tidak bisa kita kendalikan dalam pengambilan keputusan, dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Karena itu sering kita menyesali keputusan yang sudah kita buat, walaupun kita tahu bahwa menyesal kemudian itu tidak berguna. Menurut saya, kalau kita sudah mempertimbangkan baik-baik apa yang akan kita pilih, maka segala konsekuensi dari pilihan itu harus siap kita terima, seburuk apapun itu. Begitu kita membuat keputusan dengan sepenuh kesadaran, maka fokuslah untuk meneruskan langkah. Di sinilah pentingnya konsep tawakal, memasrahkan diri sepenuhnya kepada Wujud yang Maha Kuasa atas segala sesuatu: Tuhan.
Jadi, selamat membuat keputusan!
Masing-masing orang bisa mempunyai pendapat yang berbeda tentang bijaksana. Bisa saja ada orang yang mengatakan bahwa saya bijaksana, akan tetapi pada saat yang bersamaan ada orang lain lagi mengatakan bahwa saya tidak bijaksana. Wah, kalo gitu sebenarnya bijaksana itu relatif dong. Pada tataran pemikiran manusia, iya, memang relatif, sama seperti kebaikan, kejahatan, keadilan, demokrasi dll.
Menurut saya bijaksana adalah kemampuan untuk memilih yang paling baik dari beberapa pilihan yang ada. Hidup adalah pilihan. Dari waktu ke waktu, menit ke menit, detik ke detik, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Bahkan pada saat menulis ini pun saya dihadapkan pada pilihan: terus menulis sekarang ATAU berhenti dulu kemudian melanjutkan di lain waktu. Setiap saat adalah pilihan.
Kadang kita harus membuat keputusan yang cukup penting karena keputusan kita itu akan mempengaruhi hidup kita selanjutnya, misalnya ketika lulus SMU kita mau kuliah di jurusan apa; lulus kuliah mau kerja dimana; saat menikah akan menikah dengan siapa; setelah menikah akan tinggal dimana, dll dst. Sering kita memerlukan waktu cukup panjang untuk menentukan pilihan seprti ini. Ada juga pilihan-pilihan yang lebih sederhana, misalnya hari ini mau makan nasi goreng atau pecel lele; minumnya es teh atau es jeruk; pakai baju biru celana kotak-kotak atau baju kotak-kotak celana biru, dll dst.
Ada banyak variabel yang tidak bisa kita kendalikan dalam pengambilan keputusan, dan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk itu. Karena itu sering kita menyesali keputusan yang sudah kita buat, walaupun kita tahu bahwa menyesal kemudian itu tidak berguna. Menurut saya, kalau kita sudah mempertimbangkan baik-baik apa yang akan kita pilih, maka segala konsekuensi dari pilihan itu harus siap kita terima, seburuk apapun itu. Begitu kita membuat keputusan dengan sepenuh kesadaran, maka fokuslah untuk meneruskan langkah. Di sinilah pentingnya konsep tawakal, memasrahkan diri sepenuhnya kepada Wujud yang Maha Kuasa atas segala sesuatu: Tuhan.
Jadi, selamat membuat keputusan!
Monday, May 28, 2007
Haruskah Ilmu dan Agama Dipertentangkan?
Sejak awal mulai bisa menggunakan pikiran rasionalnya, maka yang pertama kali muncul dalam pikiran seorang manusia adalah ketakjuban. Dari ketakjuban ini lalu muncul rasa ingin tahu, dan lahirlah pertanyaan-pertanyaan "Apakah ini? Mengapa bisa terjadi seperti ini?". Pada hakikatnya, sampai akhir hayatnya, pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada dalam pikiran seorang manusia, karena manusia tidak pernah bisa memecahkan seluruh misteri kehidupannya.
Jawaban pertanyaan itu bisa didapatkan dari 2 jalur: melalui ilmu pengetahuan dengan segala teori dan hukum-hukumnya; dan dari agama. Ilmu pengetahuan memberikan jawaban berdasarkan hukum-hukum logika, sedangkan agama memberikan jawaban dengan landasan keyakinan. Ilmu pengetahuan dikembangkan berdasarkan dalil keraguan atas segala sesuatu baru kemudian dipilah mana yang salah dan benar berdasarkan hukum logika, Agama, sebaliknya, landasan awalnya adalah keyakinan, baru kemudian dibuktikan oleh ilmu pengetahuan; jika ternyata misalnya ilmu pengetahuan membuktikan bahwa ajaran dalam agama itu salah, maka yang dikedepankan adalah keyakinan terhadap ajaran agama dan menafikan ilmu pengetahuan.
Teori-teori yang berkembang dalam ilmu pengetahuan, pada kenyataannya, tidak selalu sejalan dengan ajaran agama. Pada titik inilah orang mulai mempertentangkan ilmu pengetahuan dengan agama, manakah yang harus dipilih: ilmu pengetahuan ataukah agama? Keputusan pada akhirnya ditentukan oleh seberapa yakin orang itu dengan ajaran agamanya. Seseorang yang tingkat keyakinannya terhadap agama tidak cukup tinggi maka ia akan semakin menjauh dari agamanya, dan bisa sampai pada titik tidak mau mempercayai ajaran agama lagi. Sebaliknya, jika ia sangat yakin dengan agamanya maka ia akan menafikan jawaban dari ilmu pengetahuan, seberapapun kuatnya dalil-dalil yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan tersebut.
Permasalahannya, banyak misteri yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan jawabannya terdapat dalam agama. Dengan demikian, seseorang yang menafikan agama, maka ia akan terombang-ambing dalam pencarian tanpa henti atas jawaban terhadap misteri tersebut, dan hanya akan berakhir jika ia kemudian mencarinya dalam agama, atau sampai ia menutup mata. Kisah Nabi Ibrahim adalah pelajaran yang sangat berharga bagaimana seseorang terombang-ambing dalam pencariannya, lalu kemudian menemukan jawabannya dalam agama Islam.
Sebaliknya, seseorang yang menafikan ilmu pengetahuan, maka ia bisa terperosok ke dalam keyakinan buta terhadap agama ('jumud'). Bagaimanapun manusia mempunyai rasio yang membutuhkan jawaban-jawaban rasional alih-alih jawaban yang bersifat dogmatis yang merupakan ciri khas ajaran agama.
Bagaimana Islam memandang hal ini? Islam sebagai agama tentu saja mensyaratkan adanya keyakinan yang kuat terhadap ajaran-ajarannya. Akan tetapi Islam sendiri juga tidak menafikan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dari banyaknya ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang pentingnya ilmu dan akal rasional.
Dalam pandangan Islam, agama tidak akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Agama diletakkan sebagai landasan terhadap segala hal, kemudian tugas ilmu pengetahuan adalah untuk membuktikan kebenaran agama itu. Pembuktian oleh ilmu pengetahuan ini akan memperkuat keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya (tahap pertama keyakinan: 'Ilmul Yakin. Jika ada teori ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan Islam, maka tugas para pemeluknya untuk membuktikan bahwa teori tersebut tidak benar. Seharusnya hal ini akan menjadi sebuah sumber motivasi yang sangat kuat bagi umat Islam untuk selalu mengembangan teori ilmu pengetahuan yang sejalan dengan Islam.
-----000-----
Jawaban pertanyaan itu bisa didapatkan dari 2 jalur: melalui ilmu pengetahuan dengan segala teori dan hukum-hukumnya; dan dari agama. Ilmu pengetahuan memberikan jawaban berdasarkan hukum-hukum logika, sedangkan agama memberikan jawaban dengan landasan keyakinan. Ilmu pengetahuan dikembangkan berdasarkan dalil keraguan atas segala sesuatu baru kemudian dipilah mana yang salah dan benar berdasarkan hukum logika, Agama, sebaliknya, landasan awalnya adalah keyakinan, baru kemudian dibuktikan oleh ilmu pengetahuan; jika ternyata misalnya ilmu pengetahuan membuktikan bahwa ajaran dalam agama itu salah, maka yang dikedepankan adalah keyakinan terhadap ajaran agama dan menafikan ilmu pengetahuan.
Teori-teori yang berkembang dalam ilmu pengetahuan, pada kenyataannya, tidak selalu sejalan dengan ajaran agama. Pada titik inilah orang mulai mempertentangkan ilmu pengetahuan dengan agama, manakah yang harus dipilih: ilmu pengetahuan ataukah agama? Keputusan pada akhirnya ditentukan oleh seberapa yakin orang itu dengan ajaran agamanya. Seseorang yang tingkat keyakinannya terhadap agama tidak cukup tinggi maka ia akan semakin menjauh dari agamanya, dan bisa sampai pada titik tidak mau mempercayai ajaran agama lagi. Sebaliknya, jika ia sangat yakin dengan agamanya maka ia akan menafikan jawaban dari ilmu pengetahuan, seberapapun kuatnya dalil-dalil yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan tersebut.
Permasalahannya, banyak misteri yang belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan jawabannya terdapat dalam agama. Dengan demikian, seseorang yang menafikan agama, maka ia akan terombang-ambing dalam pencarian tanpa henti atas jawaban terhadap misteri tersebut, dan hanya akan berakhir jika ia kemudian mencarinya dalam agama, atau sampai ia menutup mata. Kisah Nabi Ibrahim adalah pelajaran yang sangat berharga bagaimana seseorang terombang-ambing dalam pencariannya, lalu kemudian menemukan jawabannya dalam agama Islam.
Sebaliknya, seseorang yang menafikan ilmu pengetahuan, maka ia bisa terperosok ke dalam keyakinan buta terhadap agama ('jumud'). Bagaimanapun manusia mempunyai rasio yang membutuhkan jawaban-jawaban rasional alih-alih jawaban yang bersifat dogmatis yang merupakan ciri khas ajaran agama.
Bagaimana Islam memandang hal ini? Islam sebagai agama tentu saja mensyaratkan adanya keyakinan yang kuat terhadap ajaran-ajarannya. Akan tetapi Islam sendiri juga tidak menafikan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dari banyaknya ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang pentingnya ilmu dan akal rasional.
Dalam pandangan Islam, agama tidak akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Agama diletakkan sebagai landasan terhadap segala hal, kemudian tugas ilmu pengetahuan adalah untuk membuktikan kebenaran agama itu. Pembuktian oleh ilmu pengetahuan ini akan memperkuat keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya (tahap pertama keyakinan: 'Ilmul Yakin. Jika ada teori ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan Islam, maka tugas para pemeluknya untuk membuktikan bahwa teori tersebut tidak benar. Seharusnya hal ini akan menjadi sebuah sumber motivasi yang sangat kuat bagi umat Islam untuk selalu mengembangan teori ilmu pengetahuan yang sejalan dengan Islam.
-----000-----
Monday, January 8, 2007
Tahun Baru
Hari Senin, 1 Januari 2007 adalah hari yang baru di tahun yang baru. Ya, tahun baru. Itu artinya kalender 2006 harus mengakhiri masa tugasnya, dan kalender baru yang bertuliskan angka tahun 2007 segera dibentangkan. Dengan demikian, purnalah kita menapakkan kaki, sehari demi sehari, sepanjang tahun 2006, dan akan segera melanjutkan perjalanan ini, sehari demi sehari, menempuh tahun yang baru.
Biasanya, di penghujung tahun, sebelum nuansa tahun baru benar-benar menjelang, semua media massa --cetak maupun elektronik-- biasanya akan membuat kaleidoskop, merangkum kejadian-kejadian penting selama setahun. Ada kaleidoskop bidang politik, ekonomi & bisnis, olahraga, bahkan tak ketinggalan juga kisah-kisah para selebritis. Kejadian-kejadian tersebut diungkap kembali lalu diberi makna, sebagai bahan refleksi menghadapi tahun yang akan datang.
Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu itu, ketika jarum detik dan jarum panjang jam merambat pelan tapi pasti, lalu bersenyawa dengan jarum pendek membentuk waktu 00:00. Serentak prang-orang bersorak, tiupan terompet terdengar dimana-mana, dan pijaran kembang api warna-warni menerangi langit malam. Hanya sesaat sebenarnya, karena jarum detik akan segera melanjutkan perjalanannya, tanpa peduli hiruk-pikuk dunia yang tengah berpesta.
Hampir selalu, orang merayakan hari pergantian tahun. Beragam pesta dan acara diadakan. Hotel-hotel, tempat-tempat wisata, cafe, mall, stasiun TV dan radio, selalu menghadirkan acara-acara menarik. Pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba menawarkan diskon khusus. Para konsumen merasa seperti dimanjakan dan ikut larut dalam pesta tahun baru.
Orang-orang selalu mencoba membuat suatu kesan yang bermakna untuk melangkah di tahun yang baru dengan caranya masing-masing. Ada yang ikut pesta kembang api, nonton konser musik, minum-minum dengan teman-teman, dan lain-lain. Tempat wisata dan hotel dipenuhi muda-mudi --dan juga orang tua-- berpasang-pasangan, sehingga tidak salah kalau seorang teman mengklain bahwa pada malam tahun baru banyak keperawanan dan keperjakaan yang hilang. Ya, malam tahun baru adalah malam ketika hedonisme merayakan kemenangan dengan seringai lebar.
Sebenarnya, yang disebut "baru" dalam perayaan tahun baru itu, apa sih? Secara riil, apakah ada perubahan yang signifikan antara tanggal 31 Desember pukul 23:59 dengan 1 Januari pukul 00:01? Apakah dengan terdengarnya lonceng tanda pergantian tahun, lalu, sebuah pintu gerbang menuju goa harta karun jadi terbuka misalnya, atau, sumbat botol Aladin terbuka dan keluarlah jinnya?
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan tahun baru. Manusia memang akan selalu membutuhkan patok-patok waktu sebagai titik tolak untuk melangkah ke depan. Tahun baru adalah waktu paling tepat untuk menyusun ulang rencana setahun ke depan serta menyiapkan energi untuk melangkah lebih lanjut. Dari sudut inilah tahun baru memainkan peran. Dalam konteks yang hampir mirip, hari ulang tahun adalah patok waktu lain yang mempunyai peran yang sama. Oleh karena itu, patut disayangkan jika momentum tahun baru hanya diisi dengan pesta dan euforia sejenak, tanpa diikuti perubahan ke arah yang lebih baik dalam kemanusiaan kita.
Selamat Tahun Baru 2007.
Berbuatbaiklah...
"Berbuat baiklah kamu dimanapun kamu berada, maka alam semesta akan selalu mencari kesempatan untuk membalas kebaikanmu."
Seorang ayah mengajak anak laki-lakinya yang berumur 7 tahun berjalan-jalan ke sebuah lembah yang cukup sepi. Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan bagi si anak, akhirnya mereka sampailah di lembah itu, dan si anak, untuk melepaskan rasa lelahnya, ia berteriak keras, "Haaah..." Sesaat kemudian terdengar suara gema yang sama seperti terikan si anak, "Haaah..."
Mendengar suara yang tidak dikenalnya itu, si anak menjadi takut dan bersikap waspada. Sementara si ayah hanya diam saja melihat tingkah laku anaknya. Anak tersebut kemudian berteriak lagi, "Kamu siapa...?" dan dijawab dengan pertanyaan yang sama dari arah lembah, "Kamu siapa...?" Si Anak tembah penasaran, kemudian ia mulai menggereng marah, "Grrrh.." dan seperti tadi, ia juga mendapat jawaban yang persis sama dari arah lembah. Si anak kemudian menengok ke arah ayahnya dengan perasaan cemas bercampur rasa ingin tahu. Sang ayah kemudian bangkit berdiri lalu ikut berteriak, "Kamu orang hebat...!", dan dijawab dengan perkataan yang sama, "Kamu orang hebat...!" Ayahnya berteriak lagi, "Kamu anak yang baik...!", dan suara itupun mengulanginya, "Kamu anak yang baik...!"
Sambil tersenyum sang ayah mengajak anaknya duduk sambil menjelaskan bahwa suara itu adalah gema, yang akan selalu memantulkan apapun yang kita katakan. Kalau kita mengatakan hal yang baik, maka ia juga akan mengatakan hal yang baik kepada kita. Lebih jauh sang ayah menjelaskan, bahwa sebenarnya seperti itulah hakikat hidup. Kalau kita berbuat baik maka alam akan membalas perbuatan baik kita dengan caranya sendiri yang tidak kita duga, bahkan dengan nilai yang lebih besar. Sebaliknya, kalau kita melakukan hal yang buruk maka alam juga akan membalas keburukan itu kepada kita.
Teman, seperti itulah hidup kita. Jika kita memberi maka kita akan diberi lebih banyak lagi. Maka beruntunglah orang-orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik kepada orang lain, selalu siap membantu orang-orang di sekitarnya dengan ikhlas. Banyak kisah yang menggambarkan hal ini, cerita berikut ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah tersebut.
Salah seorang sahabat terbaik saya pernah HPnya ketinggalan di sebuah warung pecel lele. Si tukang pecel lele bingung ketika menemukan sebuah HP ketinggalan di warungnya, dia tidak tahu bagaimana caranya supaya ia bisa mengembalikan HP itu. Akhirnya ia coba saja menelepon salah satu nama yang ada di phonebook secara acak, dengan harapan orang yang ditelepon ini bisa tahu siapa pemilik HP tersebut. Ternyata, pulsa di HP itu tidak mencukupi buat menelepon, atau mengirim SMS sekalipun. Si tukang pecel lele, dengan setengah pasrah akhirnya mencoba menelepon salah satu nama yang ada di HP itu, akan tetapi menggunakan telepon wartel, kemudian menceritakan masalah HP itu dan kesulitannya mengembalikan ke pemiliknya. Kebetulan orang yang ditelepon oleh tukang pecel lele itu adalah saya.
Sekarang, giliran saya yang bingung. Seorang teman saya HPnya ketinggalan, tapi saya tidak tahu siapa nama teman saya itu. Tidak mungkin saya mengecek satu persatu nama-nama teman yang ada di phonebook karena banyak sekali. Setelah berpikir beberapa lama saya kemudian memutuskan akan mencoba beberapa nomor, kalau ternyata gagal ya saya pasrah aja. Paling tidak saya sudah berusaha sebisa saya. Nomor pertama yang saya telepon, yang mengangkat adalah si tukang pecel lele tadi! Dengan bersemangat si tukang pecel lele ini menyahut, "Ya ya bener mas, yang mas telepon bener HP ini."
Dengan penuh rasa syukur saya lalu menelepon ke adik teman saya itu dan memberitahukan bahwa HP kakaknya ketinggalan di warung pecel lele. Si kakak tentu saja sangat bersyukur HPnya kembali, dan seperti tidak percaya bahwa masih ada orang-orang jujur seperti tukang pecel lele tadi, di zaman yang serba sulit seperti ini.
Teman, kita tidak tahu bagaimana cara alam semesta membalas kebaikan kita, akan tetapi jika kita berbuat baik, maka ia akan selalu mencari kesempatan untuk membalas kebaikan kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)